bennerorbit

«

»

Ada Adik Ipar Anggota Timsel & Putera Cawagub Sumut, Bubarkan Timsel Bawaslu Sumut

FOTO 3

 

Medan-ORBIT: Gelagat curang Tim Seleksi (Timsel) Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sumut akhirnya menguap ke publik. Protes dan sanggahan justru bukan hanya dialamatkan kepada 12 nama yang lolos untuk mengikuti tahapan wawancara, lebih kepada desakan pembubaran Timsel dan pembatalan hasil seleksi secara keseluruhan.

“Jika negara dirugikan akibat kinerja Timsel yang berindikasi Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), selanjutnya itu kewenangan aparat hukum mengusutnya,” ujar Drs H Zulkarnain Harahap kepada Harian Orbit, Minggu (21/4), di Medan.

Dia mendesak sebaiknya dibentuk Timsel baru yang benar-benar independen sehingga mampu menjaring anggota Bawaslu yang kafabel, berkredibilitas, berintegritas dan memiliki kecerdasan sehingga badan yang diharapkan menjadi motor demokrasi setiap hasil pemilu itu benar-benar sesuai harapan Undang-Undang.

Kalangan peserta juga menilai, kinerja Timsel calon anggota Bawaslu Sumut diketuai Prof Subhilhar PhD, Sekretaris Ir Meuthia Fadila MEng Sc beranggotakan, masing-masing Drs Maraimbang Daulay MA, Prof Monang Sitorus dan Prof Dr H Hasyimsah Nasution MA itu cukup kental terhadap KKN dalam proses dan berbagai tahapan seleksi yang meloloskan 12 nama dari 93 peserta tes.

Sejumlah 12 nama yang diumumkan Timsel Senin 15 April lalu adalah Ali Bosar Hasibuan, Aulia  Andri MSi, Benget Manahan Silitonga, Hendrawan Siregar, Herdi Munthe SH, Ir Cakra Eli Gulo, Irwansyah SH MH, Josep Sihombing, Marliza, Muhammad Yunus SSos, Oskar Siagian SKm dan Syafrida R Rasahan.

Masing-masing yang lolos merupakan ‘ayam jago’ tiap-tiap anggota Timsel, bahkan di antaranya tersebut sebagai adik ipar dari anggota Timsel, putera kandung salah seorang Calon Wakil Guberbur Sumut yang kalah. Ada juga anggota Panwaslu Kabupaten dan staf sekretariat Panwaslu Kota yang menguap main uang.

“Sesuatu awal yang KKN cenderung bekerja dengan hasil karena KKN tidak akan mendukung pelaksanaan setiap even demokrasi yang diinginkan Undang-Undang,” katanya.

 

Nodai Keprofesionalan

Indikasi mencurigakan ketika tahapan seleksi tertulis, tes kesehatan dan tes psikotes yang meluluskan 12 orang dari 94 peserta calon anggota (Calang) Bawaslu Provinsi Sumut pada 6, 8 dan 9 April 2013.

Bahkan kecurangan terang-terangan cukup kental dalam pelaksanaan tes psikologi (psikotes) oleh pihak pelaksana pada kelompok pertama pada nomor urut 1-45, di Aula Laboratorium RS Bunda Thamrin Medan.

Kalangan peserta mengaku menyaksikan langsung bentuk kecurangan dalam pelaksanaan tes psikologi dengan memberikan prioritas khusus kepada sedikitnya delapan orang peserta dari kelompok pertama melalui ujian atau tes ulangan pada hari yang sama.

Ketika itu pihak pengawas tes psikologi menjelaskan ulangan terhadap 8 peserta itu dikarenakan tidak mengisi atau menjawab semua pertanyaan dan juga menurut penilaian mereka ragu-ragu memberikan pilihan jawaban a-b karena bingung.

“Menjawab atau tak menjawab, yang namanya ujian kenapa harus diulang, ada apa,” ungkap sejumlah peserta. Namun bentuk protes itu tidak begitu keras menentang penjelasan pengawas seleksi waktu itu.

Akhirnya, setelah 12 nama diumumkan Timsel, ternyata diketahui peserta yang menempati posisi 1 dan 3 pada pengumuman sesuai urutan abjad nama itu adalah mereka yang ikut dalam tes psikologi ulangan itu.

 “Kalau memang itu yang terjadi yakni bentuk kecurangan dengan mengarahkan satu atau beberapa calon peserta untuk jadi anggota Bawaslu Sumut, itu jelas bentuk kecurangan yang sangat menodai keprofesionalan Timsel Bawaslu Sumut,” katanya dengan meminta aparat hukum mengusut kasus ini. Or-11

Leave a Reply