• Nasdaq :3534.532+1.446 - +0.04%
  • UK Main Index :6625.25+41.08 - +0.62%
  • Australian All Ords :5444.800+32.200 - +0.59%
  • Australian 200 :5454.200+33.900 - +0.63%
  • AUS VS USD :0.9327
  • USD VS JPY :102.425
  • USD VS IDR :11420.00
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

Analis Politik UNJ: Indonesia Negara Amburadul

ANALIS Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedillah Badrun dalam dialog yang digelar Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (Komando) mengeluarkan pernyataan keras.

Kata dia, pada tahun 2000 Indonesia dimasukkan dalam katagori messy state (negara amburadul). Dan hingga kini, status messy state tersebut masih melekat di republik ini.

“Status negara amburadul melekat pada republik yang kita cintai ini,” kata Ubedillah Badrun.

Menurutnya yang menjadi dasar persoalan antara lain, banyaknya kasus korupsi yang tidak ditindaklanjuti aparat penegak hukum, sehingga menimbulkan ketidakpercayaan publik yang makin besar.

Ia merujuk hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang disampaikan pada sidang paripurna DPR awal Oktober 2011. Ditemukan sejak 2003 hingga semester I 2011 terjadi 305 dugaan kasus tindak pidana.

Total kerugian negara dalam 305 kasus tersebut mencapai lebih dari Rp 33 triliun. “Dengan data yang mencengangkan itu ketidakpercayaan publik saat ini tentu makin parah,” katanya Jumat (18/5),

 

Penguasa Empat Wajah

Di bagian lain ia menyebut, kehadiran penguasa Republik Indonesia di tengah rakyat secara fisik seringkali hanya dalam empat wajah.

Pertama, wajah yang mengumbar janji saat pemilu, kedua, wajah tukang perintah ketika rakyat diundang untuk rapat atau upacara formal tertentu, ketiga, wajah seolah dermawan dengan membagikan uang yang dikemas dalam bentuk bantuan, dan keempat, wajah menakutkan ketika lapak dan warung-warung rakyat kecil dibongkar.

Selebihnya rakyat kecil sering melihat penguasa hanya di layar kaca dengan wajah memelas sarat akan pencitraan dan wajah-wajah koruptor melalui pemberitaan korupsi yang spektrumnya makin meluas.

“Tentu saja hal tersebut bukan sebuah provokasi tetapi data empiris yang rakyat kebanyakan alami sehari-hari,” kata pengajar Sosiologi Politik itu.

Walhasil, sambung pria yang disapa Ubed itu, posisi negara di hadapan rakyat sangat negatif.

“Ini yang kemudian mengakibatkan meluasnya public distrust (ketidakpercayaan publik, red) terhadap penguasa Indonesia saat ini,” sebutKetua Laboratorium Fakultas Ilmu Sosial UNJ itu.Or-06

facebook twitter

You must be logged in to post a comment Login