• Nasdaq :3534.532+1.446 - +0.04%
  • UK Main Index :6625.25+41.08 - +0.62%
  • Australian All Ords :5444.800+32.200 - +0.59%
  • Australian 200 :5454.200+33.900 - +0.63%
  • AUS VS USD :0.9333
  • USD VS JPY :102.421
  • USD VS IDR :11427.50
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

Bangku dan Siswa Siluman di PPDB, SMAN 3 Akui Ada Tekanan Petinggi

Medan-ORBIT: Polemik Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau yang lebih diknal penerimaan Siswa Baru di Kota Medan memang tak pernah usai. Dari tahun ke tahun, penyelenggaraan selalu menuai kecaman atas dugaan perilaku curang hanya untuk mencari keuntungan pribadi.

Informasi dihimpun Harian Orbit hingga Selasa (17/7), sejumlah elemen masyarakat pun menaruh perhatian atas penyelenggaraan PPDB. Dari investigasi yang dilakukan Sentra Advokasi untuk Hak Pendidikan Rakyat (SahdaR), PPDB 2012 Kota Medan sarat dengan masalah.

Dimulai dari minimnya sosialisasi petunjuk teknis (Juknis) dan petunjuk pelaksanaan (Juklak) PPDB hingga dugaan tersedianya ‘bangku kosong’ bagi calon siswa yang orangtuanya berkantong tebal.

“Kami melakukan investigasi di SMA dua, tiga, empat, lima dan SMKN 3 Medan. Temuan dugaan kecurangan adalah sama, yakni dugaan permainan uang dan lobi-lobi para petinggi,” kata Kordinator Investigasi SahdaR, Halan Darmawan.

Selain itu, sambung Halan, sekolah diduga menyediakan kelas cadangan yang dialokasikan menampung siswa yang mampu membeli kursi. Dari hasil investigasi, diketahui siswa yang tamat di salahsatu SMAN di Medan tahun 2011-2012 berjumlah 460 orang.

Akan tetapi, sekolah mengumumkan jumlah keseluruhan yang diterima pada tahun 2012/2013 hanya 312 orang. Artinya, ada 148 bangku kosong yang mengindikasikan kecurangan.

“Dugaan kecurangan ini melibatkan banyak pihak baik OKP, petinggi yang berwenang, mafia pendidikan, bahkan oknum Dinas Pendidikan Medan,” terang Halan.

                                              

Mengubah Mental

Hal ini mendekati kebenaran ketika Harian Orbit mengkonfirmasi ke SMAN 3 Medan. Wakil Kepala SMAN 3 Medan bidang kesiswaan, Drs Emiruddin MM menyatakan, kalaupun ada siswa yang diangap siluman, itu merupakan titipan petinggi berbagai lapisan.

“Kami melakukan ini atas tuntutan dari semua pihak baik Ormas, OKP dan petinggi berwenang. Hal ini sudah menjadi  polemik setiap tahun, kami hanya korban saja. Seperti pengalaman beberapa tahun lalu, Menteri Perhubungan pernah menitipkan keponakannya di sekolah ini. Saya tidak bisa menyebutkan siapa namanya,” jelas Emiruddin.

Diakuinya juga, hampir 60-70 siswa yang dianggap siluman merupakan titipan petinggi Kota Medan. Hal itu sedang dirumuskan di Disdik Pemko Medan.

Menyikapi hal itu, praktisi pendidikan yang juga Guru Besar USU Prof Subhilhar  angkat bicara. Subhilhar menyatakan polemik PPDB selalu terjadi dari tahun ke tahun.

Menurut Subhilhar, hal tersebut diakibatkan tidak adanya konsep atau mekanisme yang jelas dalam dunia pendidikan Indonesia, termasuk Kota Medan.

“Kalau mau jujur, kalau kita menyatakan pendidikan wajib dua belas tahun, seharunya tidak perlu adanya seleksi termasuk UN. Karena wajib belajar mengharuskan anak-anak harus tamat SMA,” kata Subhilhar.

Mantan Dekan FISIP USU itu juga menyinggung adanya ketimpangan kualitas di setiap sekolah yang berujung terjadinya sekolah favorit dengan sekolah yang biasa.

Disinggung soal tekanan petinggi dalam penylenggaraan PPDB, Subhilhar menekankan perlunya Kepala Sekolah memiliki komitmen. “Artinya, sekolah jangan mendengar dan peduli dengan tekanan dari siapapun karena itu hak sekolah,” ujar Subhilhar.

Dan yang terpenting, sambungnya, masyarakat harus mengubah mental dan persepsi supaya tidak memaksakan anak-anaknya masuk ke sekolah dengan menempuh tidak sesuai dengan jalur yang dibuat.

Terpisah, konfirmasi persolan ini kepada Kepada Dinas Pendidikan Kota Medan Rajab Lubis, tidak pernah direspon. Bahkan, dihubungi melalui telepon, Rajab  tidak mengangkat. Om-Tas

facebook twitter

You must be logged in to post a comment Login