bennerorbit

«

»

Bank Sampah, Limbah Daur Ulang yang Menghasilkan Produk

Laporan Erie Prasetyo

Merubah cara pandang kita dalam memperlakukan sampah adalah prinsip dasar dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Paradigma pengelolaan sampah yang bertumpu pada pendekatan akhir sudah saatnya ditinggalkan. Dimana kebiasaan masyarakat terhadap sampah selama ini biasanya menyia-nyiakan sampah (membuang dan membakar sampah), membenci sampah, dan juga suka menyampah.

Mindset lama perlu diganti dengan paradigma baru (Mindset baru) pengelolaan sampah. Yaitu membiasakan masyarakat dengan mendayagunakan sampah ( memanfaatkan/mendaur ulang), menyayangi sampah, dan menghemat sampah.

Sampah harus dipandang sebagai sumber dana yang mempunyai nilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan. Pemanfataan sampah yang bernilai ekonomis misalnya dapat dijadikan bahan-bahan kerajinan  dan kompos. Adapun prinsip utama yang benar dalam mengelola sampah adalah mencegah timbulnya sampah, menggunakan ulang sampah serta mendaur ulang.

Jika prinsip ini dijalankan dengan benar dan konsisten, maka akan mendatangkan hasil akhir yang nyata. Pengelolaan sampah yang benar pada akhirnya akan mengurangi polutan, mendatangkan manfaat ekonomi dan menjadikan lingkungan bersih. Jika lingkungan bersih otomatis kesehatan masyarakat juga terjaga.

Namun merubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah seperti prinsip diatas tidaklah mudah. Masyarakat kita secara kultural sudah terbiasa membuang sampah langsung ke tempat pembuangan sampah. Bahkan banyak  ditemui, kebiasaan masayarakat kita yang seenaknya membuang sampah tidak pada tempatnya.

Beberapa masyarakat yang sadar lingkungan biasanya telah memilah jenis sampah. Sampah basah dipisahkan dari sampah kering. Tetapi oleh petugas pengangkut sampah, biasanya malah mencampur kembali sampah yang telah dipilah tersebut. Hal ini terjadi, karena kebanyakan gerobak pengangkut sampah tidak memiliki fasilitas pemisah sampah tersebut.

Adapula warga masyarakat yang mengumpulkan sampah kering untuk dijual, tetapi kegiatan ini belum maksimal karena masih dilakukan secara individu dan tidak terkoordinir secara terpadu. Kondisi ini juga diperparah oleh belum adanya lembaga yang menangani pengelolaan sampah dari hulu ke hilir atau secara keseluruhan/komprehensif yang berkesinambungan dan yang mempunyai nilai tambah pada aspek sosial, ekomomi, kesehatan dan lingkungan.

Masih minimnya sosialisasi atas penerapan Undang-undang No. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, juga memberikan kontribusi minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah dengan benar.

Memanfaatkan kertas bekas untuk amplop, Memanfaatkan kaleng bekas untuk pot bunga, Memanfaatkan sisa makanan/sayuran untuk makanan ternak/ikan, dll. Mendaurulang sampah dengan Mengolah sampah kertas menjadi kertas daur ulang/kerajinan, Mengolah bungkus bekas menjadi aneka kerajinan, Mengolah gabus styrofoam menjadi batako, pot bunga dsb.

Mengolah sampah kaca menjadi aneka bentuk seni dan alat rumah tangga, Mengolah sampah organik menjadi kompos/pupuk, Mengolah kotoran ternak menjadi pupuk dan gasbio, Mengolah daun kering, ranting tanaman menjadi briket bioarang.

Kelima Menabung sampah, Menabung sampah seperti menabung di bank. Pada bank sampah, masyarakat menabung dalam bentuk sampah yang sudah dikelompokkan sesuai jenisnya. “Jika produk daur ulang sudah banyak diselesaikan, maka akan dilempar ke pasran melalui pameran-pemeran produk ekonomi. Rencananya kami akan hasilkan tas untuk diklat, perdana pameran akan seera dilaksanakan. Ya namanya juga baru, semua harus terus dibenahi,” ujar Drs Efendy Agus, Ketua LSM Peduli Lingkungan Medan.

Manfaat Bank Sampah

Manfaat Bank sampah ini terbagi pada tiga aspek antara lain Pertama  adalah dari segi aspek lingkungan adalah berkurangnya jumlah sampah yang harus dibuang ke TPA, membantu mengurangi pencemaran udara akibat pembakaran sampah, membantu menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih. Kedua adalah aspek pendidikan antara lain :

menanamkan pentingnya mengelola sampah rumah tangga kepada masyarakat dengan cara diinvestasikan/ditabung, Pendidikan lingkungan hidup sejak dini terhadap anak-anak dengan tidak meninggalkan tumbuh kembang mereka, Anak-anak akan memahami pentingnya menabung, Anak-anak akan memaknai sampah yang mereka hasilkan.

Ketiga adalah aspek Ekonomi, menambah pendapatan keluarga dari sampah yang mereka tabung di bank sampah,  Menciptakan jiwa entreprenuer bagi masyarakat di bidang pengelolaan sampah, contoh : sebagai direktur dan teller bank sampah, Merubah persepsi negatif yang berkembang di masyarakat terhadap penggiat sampah terutama pemulung,  dalam jangka panjang akan merubah strata kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia, dengan semakin banyaknya wirausahawan baru dibidang pengepul sampah.

Bank sampah menjadi lahan bisnis baru jika ditekuni. Lebih bijak lagi, jika kita mendirikan bank sampah bukan semata untuk mendapatkan uang. Namun, sebenarnya untuk membantu mengatasi sampah yang acap kali memunculkan masalah baru berkaitan dengan lingkungan hidup. Keberadaan sampah di sekitar kita, mustahil dihilangkan. Namun, dengan bank sampah tersebut bisa mengurangi volume sampah dan menumbuhkan karakter hidup bersih demi kelestarian lingkungan. Mari, kita awali dari diri kita sehingga sampah akan menjadi kebutuhan bukan musuh bebuyutan.EP

Leave a Reply