«

»

Budi Daya Ubi Jepang, Menambah Pengahasilan Petani

Ubi Jepang, Selasa (28/8) Antonius Samosir

 

Medan-ORBIT : Ubi Jepang sejenis ubi rambat merupakan produk pertanian yang memiliki potensi yang dikembangkan oleh warga yang tinggal di Desa Sihotang Nahornop, Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi.

Aktifitas ekspor ini sudah berjalan enam tahun, dan belum ada kendala menurut para petani ubi Jepang ini saat ditanyai wartawan Harian Orbit. Dengan membudidayakan Ubi Jepang masyarakat sudah bisa menambah penghasilan dari biasanya, yang pada dasarnya penghasilan warga di daerah tersebut sebagai penghasil kopi, namun dengan hadirnya ubi Jepang tersebut seakan menambah keuntungan bagi warga.

Sejenis ubi rambat yang biasanya hanya dikonsumsi oleh masyarakat namun dengan hadirnya ubi Jepang tersebut, sudah bisa menjadi mesin penghasil uang yang bisa menambah penghasilan masyarakat. Beni Siboro salah seorang pembudidaya ubi Jepang yang tinggal di Desa Sihotang Nahornop, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten dairi saat ditemui wartawan koran ini menceritakan soal hadirnya ubi Jepang di Sumut, khususnya Dairi.

Jelas saja dengan adanya ekspor ubi Jepang ini akan menambah aktifitas waraga sekaligus menambah penghasilan warga. “Sebelumnya ubi rampat hanya dikonsumsi atau dipasarkan di Pasar tradisional namun dengan hadirnya ubi Jepang bisa menambah penghasilan warga pasalnya ubi tersebut sudah di ekspor ke Jepang dan Singapura. Kondisi tersebut tentu harganya juga mahal sehingga menjadi keuntungan besar bagi petani, dari sebelumnya sebagai penghasil kopi,” kata Beni.

Beni menambahkan budidaya ubi Jepang tidak rumit hanya butuh perawantan, dan masa panennya juga singkat selain itu pemasaranya juga gampang. “Masa tanamnya singkat, hanya sekitar 4 sampai 5 bulan, sedangkan pemasaranya tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke Singapura dan Jepang. Dikatakanya biasanya lahan yang digunakan adalah lahan yang kosong yang belum pernah ditanami tanaman muda, namun apabila tanahnya sudah bekas dari tanaman, harus butuh perawatan ekstra.

Dengan cara tanah diolah terlebih dahulu dengan dicangkul. Selain itu diberi gundukan setinggi 50 cm dan lebar 60 cm, serta diberi parit selebar 30 cm. Dan Untuk setiap hektar lahan dapat ditanam sekitar 4500 batang bibit Ubi Jepang. Bibitnya diambil dari batang ubi yang sudah tua. Untuk setiap hektar tanaman membutuhkan biaya sebesar 7 sampai 10 juta rupiah untuk biaya operasional dan perawatannya.

Disinggung masalah panen dari setiap hektar tanaman dapat menghasilkan Ubi Jepang sebanyak 18 sampai 20 ton dengan harga yang cukup tinggi. “Harga untuk ekspor berpariasi sesuai dengan ukuran A untuk ubi yang ukurannya besar dan B untuk ukuran sedang dan C untuk ubi yang ukurannya kecil. Dan harga Ubi jepang segar dan mulus berkisar Rp4000/kg sampai Rp6000/kg. (Om-35)

Leave a Reply