«

»

Jambu Air, Termanis dan Termahal Ada di Kota Binjai

Foto 1

Foto: Sunardi menunjukkan buah jambu air termanis dan termahal di kebunnya. Orbit/Fazly Arman

 

BERJARAK sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Binjai, tepatnya di Jalan Kecipir, Lingkungan VII, Kelurahan Paya Robah, Kecamatan Binjai Barat, siapapun pengunjung pasti akan tertarik dengan hamparan pemandangan hijau yang terlihat di kawasan perkebunan buah mini ini.

Dikatakan mini karena areal perkebunan buah yang telah diusahakan sejak dua tahun tersebut, hanya memiliki luas sekitar 400 meter persegi. Bahkan bisa dikatakan koleksi budidayanya pun cukup terbatas karena hanya terdiri dari beberapa jenis tanaman saja.

Walaupun demikian, nyatanya kebun yang didominasi sekitar ratusan batang tanaman buah lokal Indonesia dari berbagai jenis tersebut telah menjadi sentra penghasil buah jambu air unggulan di Kota Binjai.

Sunardi (43) selaku pengelola kebun, saat dikunjungi mengaku bila jambu air produksinya saat ini telah tercatat sebagai jambu air termanis dan termahal di Indonesia. Termanis karena menjadi buah jambu air dengan tingkat kemanisan tertinggi dibandingkan dengan buah sejenis lainnya, yakni mencapai 12,4 hingga 14,4 brix, Dan yang termahal mengingat harga per kilogramnya saat ini mencapai Rp 30 ribu.

Tidak heran, bila banyak penggemar buah di Kota Binjai dan dari berbagai daerah menjadi penasaran hingga menyempatkan datang untuk membeli. Di kebun tersebut, lebih dari 400 batang tanaman jambu air dari dua varietas tumbuh dengan subur. Masing-masing terdiri dari dua varietas tanaman jambu air, yaitu deli hijau dan kesuma merah.

Secara fisik, kedua jenis tanaman ini sama sekali tidak bisa dibedakan. Perbedaan baru terlihat saat tanaman memasuki masa berbuah, dimana jambu air deli hijau cenderung berwarna putih dan sedikit agak kemerahan saat matang, sedangkan jambu air kesuma merah lebih condong berwarna merah tua.

Ukurannya jambu deli hijau pun lebih kecil dengan berat mencapai 200 gram per buah, sementara buah jambu air kesuma ukurannya lebih besar mencapai 250-300 gram per buahnya.

Meskipun demikian, tanaman jambu deli hijau memiliki produktifitas yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman jambu air kesuma merah. Lebih jauh, Sunardi sang pengelola kebun mengatakan bila usahanya itu telah dimulai sejak dua tahun silam. Berbekal hobi dan pengalaman hidup sebagai putera seorang petani, awalnya ayah dengan lima anak ini memulai usaha agrobisnisnya dari penangkaran bibit tanaman buah.

Ia bahkan mengaku bila tanaman jambu yang dibudidayakannya tersebut ditemukan secara tidak sengaja, setelah melakukan sejumlah percobaan pembudidayaan selama beberapa tahun.

“Awalnya saya cuma membudidayaan mangga dan kelengkeng. Namun karena penasaran dengan jambu air, makanya sekitar tahun 1996 saya pun mulai serius. Alasannya karena jambu memiliki masa produksi yang lebih. Apalagi kebutuhan lahan tanam tidak seluas tanaman buah yang lain,” ungkap pria yang sudah lebih dari 15 tahun bergelut di bidang penangkaran bibit tanaman buah tersebut.

Walaupun tanaman yang dibudidayakan belum genap berumur dua tahun, namun dapat dikatakan jumlah produksi per tahunnya cukup memuaskan, yakni mencapai 1,5 ton untuk setiap kali panen.

Bahkan saat ini, suami dari Elida Nasution tersebut mampu mempekerjakan 15 karyawan di lahan pembudidayaannya. Termasuk pula membentuk komunitas petani pembudidaya jambu air dengan nama “Pondok Bengkel Hijau Nursery,” yang jumlah anggotanya saat ini telah mencapai sebanyak 36 orang.

“Kalau keuntungan untuk sementara ini cukup lumayan, meski secara produktifitas masih sedikit. Meski begitu, kita tetap masih mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan pembeli mengingat usia tanaman yang tergolong muda sehingga produksinya pun masih sangat sedikit,” ucap pria tamatan STM tersebut.

Melalui usaha pembudidayaan tanaman jambu air, Sunardi berharap agar Kota Binjai bisa menjadi sentra penghasil buah tropis unggulan di Provinsi Sumatera Utara. Selain mengembangkan sejumlah pembudidayaan tanaman buah, hal tersebut dapat terwujud dengan membuat sebuah kawasan khusus daerah agrowisata.

“Melalui ini, saya tentunya sangat berharap agar Binjai tidak hanya dikenal sebagai kota persinggahan yang identik dengan buah rambutannya saja, tetapi juga bisa menjadi kota penghasil buah-buahan tropis terbesar di Sumatera Utara, bahkan di Indonesia,” harap Sunardi.

Tidak hanya itu, Sunardi menambahkan dalam setahun terakhir Pemerintah Kota Binjai telah menunjukan keseriusannya dalam membangun dan meningkatkan produktifitas hasil pertanian termasuk dalam waktu dekat akan membangun lokasi agrowisata demi menjamin pemasaran produk holtikultura dari petani.Fazly Arman

Leave a Reply