«

»

Jual Ikan Asin, Bisnis Dengan Omset Puluhan Juta

Penjual melayani pembeli ikan asin di Pusat Pasar, Medan, Rabu (24/8).

 

Medan-ORBIT : Bagi sebahagian pendatang atau pelancong yang akan pulang ke daerah asalnya,  dipastikan tidak akan lupa untuk membeli ikan asin atau ikan teri sebagai oleh-oleh khas khas kota Medan.

Yang bisa di temukan dipasar-pasar tradisional. Tapi siapa sangka kalau ikan asin yang paling nikmat disantap dengan lalapan atau sayur-mayur itu punya peluang bisnis yang luar biasa.

Seperti yang tengah ditekuni keluarga Purba (55) warga Jalan Santun Medan. Bersama keluarganya ia telah menekuni bisnis ikan asin sejak puluhan tahun silam. Padahal dikawasan tempatnya tinggal samasekali tidak ada bisnis ikan asin. Jadilah mereka menjadi penguasa bisnis ikan asin dibeberapa pasar tradisional kota Medan, yang dulunya banyak mengambil ikan asin dari daerah Tanjungbalai dan Rantau Parapat.

Menurut Martohap Purba, terjun ke bisnis ini tidaklah begitu sulit dijalani. Selain bahan baku yang mudah didapat, bisnis ini hanya memerlukan ketekunan dan kesabaran. bisnis ikan asin tidak sulit dan cara kerjanya sangat sederhana. Walau cukup gampang, namun sampai saat ini pelung bisnisnya cukup.

“ Hanya dengan membubuhi garam dan tawas pada ikan yang sudah dibelah dan dibersihkan lalu diletakkan dalam satu wadah tertutup untuk selanjutnya direndam selama 2 malam. Setelah itu baru ikan di cuci dan dijemur, untuk 100 kilogram garam biasanya dibutuhkan sekitar 40 kilogram garam. Dan satu-satunya yang menjadi kendala adalah cuaca, kalau sudah musim penghujan biasanya proses pengeringan akan membutkan waktu lama. Namun bila tengah musim panas maka bisa hanya sekitar 3 hari saja waktu pengeringannya,” katanya kepada Harian Orbit, Selasa (23/8) sambil ditemani anaknya Mora.

Biasanya, ikan yang mereka gunakan untuk membuat ikan asin adalah  ikan segar dari dari pasar tradisional Simpanglimun atau Pusat Pasar Medan.

Yang paling sering dijadikan ikan asin adalah ikan selar, ikan gembung, dan ikan lidah, ikan gulama, biji nangka dan lain-lain. Meski kadang ada juga ikan jenis lain yang ukuran besar untuk dijadikan ikan asin.

Dalam satu hari biasanya, keluarga Purba bisa mengeluarkan modal antara Rp500.000 sampai Rp1 jutaan.

“Paling sedikit saya mengolah ikan segar untuk dijadikan ikan asin sekitar 100-150 kilogram. Karena jika sudah diasinkan maka bobot ikan akan turun menjadi setengahnya, karena ada beberapa ikan yang kita buang dulu isi perutnya baru diolah,” ujarnya lagi.

Biasanya, jika sudah menjadi ikan asin yang layak konsumsi, harganya pun bisa lebih tinggi dari harga modal. Dan itu tidak lain karena modal yang digunakan juga cukup banyak.

Untuk harga se kilo ikan asin, biasanya akan dibanrol antara Rp10.000 sampai dengan Rp20.000. Dengan catatan, untuk 100 kilogram ikan segar akan dihasilkan antara 30-40 kilogram ikan asin dengan keuntungan paling sedikit Rp500.000- Rp700.000.

Dan kalau sudah awal minggu, biasanya akan datang orang yang akan menjualnya ke pasaran, karena mereka disini hanya mengolah atau membuatnya. Sedangkan pemasarannya beda lagi. Meski masih satu keluarga juga, namun mereka tidak mencampur adukkan antara pembuatan dan penjualan.

Jika dihitung-hitung, dalam satu minggu, omset penjulanan mereka bisa mencapai Rp15-Rp20 jutaan.

“ Itu semua sudah termasuk biaya produksi dan pekerja,” kata Purba diakhir wawancara. Om-14

Leave a Reply