bennerorbit

«

»

Kehidupan Anak Perkampungan Raih Cita-citanya Catatan Samosir

(Antonius Samosir) : kondisi Nia Paramita Siboro (10) didepan rumah saat mau pergi ke sekolah.

(Antonius Samosir) : kondisi Nia Paramita Siboro (10) didepan rumah saat mau pergi ke sekolah.

 

BOCAH yang berusia 10 tahun itu seharusnya bisa bermain dengan teman sebayanya, namun tidak dengan apa yang terjadi  pada Nia Paramita Siboro. Siswi yang duduk dibangku sekolah kelas empat SD harus menempuh jarak yang jauh untuk bias mengecam bangku pendidikan. Jarak dari rumahnya ke SD Advent di Lumban Gambiri berkisar 6 km, itu ditempuh dengan berjalan kaki.

Nia Paramita Siboro anak ketiga dari empat bersaudara yang tinggal di desa Sihotang Nahornop Parbuluan 6 Kecamatan Sigalingging Kabupaten Dairi, harus dituntut melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang dewasa.

Pagi hari Nia sudah terbiasa bangun pukul 04:00 – 04:30 wib pasalnya Nia melakukan tugas, yakni mencuci piring, bersih-bersih rumah baru bisa mandi lalu sarapan, pekeraan ini rutin dilakukannya setiap hari bersama abang dan kakanya yang juga duduk dibangku sekolah SD dan SMP.

Setiap pukul 06:30 wib, Nia sudah siap untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dengan jarak tempuk berkisar 6 km dengan waktu perjalanan berkisar 30 menit, yang berarti perjalanan yang memorsir tenaga, tapi buat Nia “ala bias karena biasa” jadi tidak terlalu sulit buatnya. Nia menjalaninya dengan tawar riang bersama temanya yang juga teman sekolahnya yang menunggu di simpang jalan menuju sekolahnya.

Pulang sekolah Nia juga harus memorsir tenaga yang banyak pada hal belum makan siang. Setelah sampai dirumah baru Nia makan siang. Disiang hari Nia  melakukan pekerjaan menjaga dan memandikan adiknya yang paling kecil yang biasa disebut namanya butet, selanjutnyamencuci piring dan bersih-bersih rumah, barulah Nia belajar untuk mengulalangi pelajaran yang diterangkan gurunya di pagi hari.

Menunggu orangtuaya, kakadan abangnaya datang dari ladang Nia dan adiknya butet sudah siap sudah siap mandi, yang biasanya pulang dari ladang sekitar pukul 06:00 wib, jadi orang tua Nia tidak perlu repot-repot lagi untuk membersihkan rumah dan memandikan anaknya karena pekerjaan itu sudah diambil alih oleh Nia.

Pada malam hari sebelum tidur Nia harus belajar lagi, disinilah kesempatan Nia bisa bertanya kepada orangtuanya karena pada malam hari saja ada waktu yang tepat untuk bertemu berbagi kasih sayang bersama orangtunanya, pasalnya pada pagi hari orangtuanya sudah pergi keladang.

Hal ini lah yang dilakukan Nia setiap harinya yang melakukan pekerjaan orang dewasa yang sewajarnya. Tanpa disuruh oleh orang tua  dan melakukanya denagn kesadaran sendiri.

Hal ini sudah terbiasa buat Nia jadi tidak menjadi beban, numun Nia merasa sudah kewajiban yang harus dilakukanya setiap harinya. Dengan melihat kondisi orang tuanya sebagai petani dengan penghasilan pas-pasan Nia selalu berbakti kepada kedua orngtunya dan sungguh sesuatu kebanggaan buat Nia bisa membantu orangtuanya.

Nia Paramita menjelaskan saat dikonfirmasi harian Orbit, mengatakan saya sudah terbiasa  bang mengerjakanya setiap hari, dan tidak menjadi beban buat saya biar pun saya masih kecil, malah saya senang bisa membantu orangtua. Saya kasihan sama orang tua yang setiap harinya membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan kami anaknya. Dan saya bangga punya orang tua seperti mereka dan aku mencintainya,”ujarnya sembari mengeluarkan air mata.

Nia menambahkan masalah pelajaran saya tidak pernah ketinggalan, saya mendapat ranking 1 (satu) bang dikelas. Sehingga orang tua saya bisa bangga, tapi saya belum puas dengan apa yang saya dapat. Karena saya merasa bahwa saya pintar diantara yang terbodoh yang artinya saya harus perlu banyak belajar lagi. Dan saya kepengen seperti anak-anak kota seperti yang di TV. Anak-nak dikota kan enak, bisa les, bergai macam pelajaran. Tapi aku juga punya guru les yaitu bapak dan mamak. Saya bercita-cita kalau saya tamat sekolah dari SD dan melanjut SMP kekota saya harus tetap menjadi ranking 1 (satu) agar orang tua tetap bangga sama saya,”ujarnya.

Leave a Reply