• Nasdaq :3533.086+45.233 - +1.30%
  • UK Main Index :6584.17+42.56 - +0.65%
  • Australian All Ords :5412.600+32.300 - +0.60%
  • Australian 200 :5420.300+32.100 - +0.60%
  • AUS VS USD :0.9369
  • USD VS JPY :102.215
  • USD VS IDR :11437.00
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

Lurah Bantan Berang Dituding Izinkan Lakukan Penebangan Pohon

Satu Batang Pohon Mahoni Dihargai Mahal

Pohon Mahoni di Jalan Pertiwi yang ditebang pengembang. ORBIT/Suwandi

“Kenapa kalian kasih tahu hal ini kepada wartawan. Apa kalian tidak takut diberitakan. Yang kena itu sudah pasti saya. Jadi lebih baik kalian bersihkan nama baik saya,”

 

Medan-ORBIT: Penebangan pohon yang dilakukan pengembang di Jalan Pertiwi Kelurahan Bantan Kecamatan Medan berbuntut panjang.

Lurah Kelurahan Bantan, Nila Juwita yang kabarnya disebut-sebut memberi izin penebangan tanaman hijau itu tidak senang dan berang. Dia pun membantah keterangan pekerja yang menebang pohon itu mendapat izin dari dia.

Hal itu diketahui berdasarkan pengakuan dari salahseorang pekerja bangunan yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Harian Orbit Minggu (21/7). Menurut keterangan dari pekerja tersebut, Nila Juwita datang ke lokasi bangunan sambail memarahi mereka.

“Kenapa kalian kasih tahu hal ini kepada wartawan. Apa kalian tidak takut diberitakan. Yang kena itu sudah pasti saya. Jadi lebih baik kalian bersihkan nama baik saya,” ujar pekerja tersebut menirukan ucapan Juwita.

Di kalangan warga juga beredar dugaan, satu batang pohon yang cukup besar itu ditebangi diduga komersil, yaitu uangnya untuk lurah tanpa ada rekom dari Dinas Pertamanan. Pohon yang ditebangi itu sudah berusia tua dan memiliki nilai jual cukup mahal.

“Kami dengar pohon itu ditebang dengan alasan mengganggu bangunan Alvin yang sedang dikerjakan. Tapi harusnya pohon itu ditebang ada rekom dari Dinas Pertamanan, dan instansi ini pula yang nantinya menebangi,” tandas Herman, warga setempat.

Padahal, menurut Herman, pemerintah menganjurkan menanam seribu batang pohon, yang tujuannya untuk penghijauan. Namun bagi lurah dengan seenaknya mengangkangi peraturan tersebut. Padahal di dalam peraturan daerah sangat dilarang.

“Boleh-boleh saja pohon itu ditebang, asalkan pohon tersebut sudah mati.

Jadi perbuatan lurah dapat dikenakan sanksi pidana. Apalagi di dalamnya diduga ada gratifikasi antara lurah dengan pengembang. Jika tidak, mana mungkin pengembang berani,” tutur Herman.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Lurah Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Nila Juwita berang. “Saya keberatan, kenapa masalah ini tidak ada dikonfirmasi kepada saya. Jadi saya tidak terima pemberitaan itu,” pungkas Juwita.

Namun, ketika ditanya kembali kenapa lurah marah dengan pekerja bangunan, Juwita langsung mematikan telepon selulernya. Padahal sebelumnya, persoalan ini sudah dikonfirmasi, tapi Juwita tidak mengangkat telepon selulernya, bahkan tidak membalas pesan yang ditinggalkan.

Sedangkan Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan, Zulkifli Sitepu, setelah menerrima informasi tersebut, hingga kini belum mengambil tindakan tegas terhadap Juwita. Bahkan mengangap persoalan tersebut tidak ada. Padahal perbuatan Juwita merugikan orang banyak.

Menyikapi persoalan tersebut, Ketua Lembaga Pengkajian Masyarakat (LPPM) Sumut, Yudo Saputro mengatakan, Dinas Pertamanan jangan mendiamkan adanya penebangan pohon ilegal dilakukan oknum lurah. Sudah seharusnya lurah tersebut ditindak tegas.

“Pemerintah begitu gencar promosi agar memelihara pohon yang sudah ada dan menanam yang baru untuk penghijauan. Tapi ini kok malah menebagi. Jadi warga boleh keberatan dan melaporkan Juwita ke polisi. Karena di dalamnya ada unsur pidana,” pungkas Yudo. Om-18

facebook twitter

You must be logged in to post a comment Login