bennerorbit

«

»

Parokial Politik Menerpa Aceh

Lhokseumawe-ORBIT: Budaya politik Aceh semakin mengarah kepada mementingkan kelompok tertentu (Parokial Politik). Kondisi ini akan menimbulkan perpecahan di masyarakat Aceh dan nasional.

Bahkan, berbagai kejadian pra pelaksanaan tahapan Pemilukada hingga saat ini semakin meningkat. Seperti halnya tindak kejahatan berbau intimidasi atau terorisme Pemilukada. Beberapa catatan kejadian dalam empat bulan terakhir, penumbangan tower, pembakaran rumah calon Bupati Aceh Utara, pembakaran kendaraan Tim Sukses (Timses) hingga penembakan pejabat publik.

“Situasi Aceh yang Parokial ini membuat pemerintah pusat mengambil kebijakan politik demi menjaga Pemilukada tetap dalam lingkup perdamaian. Malah Pj Gubernur Aceh membentuk tim safari Pemilukada Damai. Tapi sayangnya, kondisi tindak kekerasan teror tetap belangsung dialami pasangan calon gubernur hingga walikota,”jelas pengamat Ilmu Sosial Politik Universitas Malikussaleh, Alkhaidar, SIP kepada Harian Orbit menyikapi Pemilukada Aceh yang berlangsung 9 April mendatang.

Alkhaidar menilai, maraknya aksi terorisme Pemilukada seolah dibiarkan pemerintah. Aparat penegak hukum, institusi kepolisian tidak bergerak mengungkap seluruh aksi terorisme tersebut. Begitu juga halnya tindak pelanggaran Pemilukada yang kerap mewarnai pesat demokrasi itu, belum sepenuhnya diungkap Panitai Pengawas Pemilu (Panwaslu).

“Kayaknya pemerintah pusat bertepuk tangan, mereka tidak ingin melihat Aceh damai. Terkesan ada upaya untuk pembiaran agar sesama orang Aceh saling teribat konflik dan perpecahan. Ini bukan demokrasi tetapi kerjaan mafia, tujuan tidak lain untuk kepentingan kelompok tertentu yang mencari keuntungan dari tender-tender proyek,” sindir Alkhaidar, kemarin.

Dia memprediksi, bila hal ini dibiarkan, kondisi demokrasi Aceh hanya akan melahirkan mafia-mafia baru yang akan mengatur pemerintahan melalui kapitalisme birokrasi. Misalnya, dengan jalan memperebutkan keuntungan dari tender proyek. Disamping citra demokrasi Aceh akan semakin terpuruk tidak hanya di tingkat nasional, melainkan juga di tingkat internasional.

Dalam kacamatanya, seluruh kontestan Pemilukada mulai calon perseorangan hingga yang diusung dari partai politik lokal maupun nasional terlibat pelanggaran Pemilukada.

 

Bersikap Profesional

Sementara itu, Ketua Partai Aceh Mualim Muzakir Manaf meminta semua pihak, termasuk kalangan pengamat dan politisi untuk bersikap biasa saja dalam menyikapi proses pendidikan politik pesta demokrasi. Begitu juga kalangan dari calon pasangan bupati, walikota dan calon gubernur bersikap profesional.
Muzakir menegaskan, seluruh pihak jangan memancing dalam situasi seperti sekarang ini, yang pada akhirnya menimbulkan konflik di lapangan terlebih lagi sesama tim pemenangan.

“Marilah kita hindari konflik, kita jangan saling fitnah memfitnah, bersikap biasa saja, mari kita semua jaga perdamaian dan saling percaya,” ajaknya.

Terkait dengan maraknya aksi teror terhadap pendukung serta fasilitas partai Aceh, Muzakir menambahkan, pihaknya dalam menyikapi situasi yang merugikan partai politiknya. Namun demikian, dia tetap percaya bahwa pengustan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

Walapun lawan politiknya memiliki sifat dendam dan iri hati, namun Partai Aceh berkomitmen tidak akan membalas setiap kecurangan yang akan merusak tatanan demokrasi Aceh. On-84/84

Leave a Reply