bennerorbit

«

»

Partisipasi Perempuan Dalam Dunia Politik

Susi Aisyiyah SP Pengurus Wilayah Gema Khadijah Sumut (kiri) yang hadir sebagai narasumber dalam diskusi publik Partisipasi Perempuan Dalam Politik yang diadakan organisasi Salimah Peduli Perempuan Sumut, di Hotel Garuda Citra, Rabu (17/7) sore. ORBIT/Yusrizal

 

Medan-ORBIT: Politik,sebuah kata yang memberikan kesan khusus dan seolah menggambarkan sebuah dunia yang diperuntukkan bagi kaum Adam.

Terkesan demikian, karena dunia politik bagi sebagian besar kaum hawa selalu digambarkan sebagai dunia yang keras, penuh persaingan, intrik dunia dengan segala tipudaya yang terkadang menghalalkan segala cara untuk mencapai satu tujuan (kemenangan) yang tidak mengenal kawan maupun lawan.

Namun, pemikiran tersebut setidaknya telah terpatri dalam benak setiap atau sebagian besar perempuan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Setidaknya itu yang dikatakan Pengurus Wilayah Gema Khadijah Sumatera Utara (Sumut) Susi Aisyiyah SP pada kegiatan diskusi publik Partisipasi Perempuan Dalam Politik yang diadakan organisasi Salimah Peduli Perempuan Sumut, di Hotel Garuda Citra, Rabu (17/7) sore.

” Partisipasi perempuan dalam politik adalah jantung hati dari tujuan ini, dan partai politik adalah salah satu lembaga penting untuk meningkatkan dan memperluas partisipasi tersebut. Dengan jumlah kursi parlemen didunia kurang dari dua puluh persen diduduki perempuan, jelas bahwa partai politik harus berubah dan sebaiknya didukung dalam upaya untuk mendorong pemberdayaan politik perempuan,” kata Susi.

Dia mengatakan, dalam peranan politik, katanya, islam memandang perempuan sebagai bagian dari masyarakat yang menjadikan mereka memiliki kewajiban yang sama untuk mewujudkan kesadaran politik baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat .

“Yang perlu diluruskan bahwa pengertian politik dalam konsep islam tidak terbatas pada masalah kekuasaan dan legislatif saja melainkan meliputi pemeliharaan seluruh umat didalam negeri maupun luar negeri, baik menyangkut aspek negara maupun umat,” ujarnya.

Sementara itu, Akademisi Institu Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut Hj Yenni Samsi Juliati Nasution dalam seminar itu mengatakan, dalam islam batasan peran dan hak antara laki -laki dan perempuan telah jelas diatur, demikian juga dengan hak dan peran politiknya.

“Sejarah telah mencatat bagaimana kaum perempuan dimasa rasulullah melaksanakan peran, hak, dan perjuangan politik bersama rasulullah saw dan para sahabat lainnya,” katanya.

Sementara, sejarah islam dan Indonesia juga mencatat banyak perempuan yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik bahkan menjadi pemimpin.

“Partai politik adalah kunci partisipasi perempuan dalam politik, karena partailah yang membuat dan memilih calon untuk pemilihan dan penentukan agenda kebijakan suatu negarta. Meski demikian, dalam partai politik perempuan cenderung lebih terwakili ditingkat akar rumput atau dalam jabatan pendukung ,” kata Yenni lagi.

Kepala Bidang Pembinaan Politik Dalam Negeri Badan Kesbangpol dan Linmas Provinsi Sumatera Utar, Achmad Firdaus Hutasuhut mengatakan, saat ini partisipasi perempuan dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan guna memberi pelayanan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Indoenesia pada umumnya dan kaum perempuan pada khusunya.

“Partisipasi ini tentunya diperbolehkan selagi tidak mengganggu perannya sebagai ibu dan istri. Tentu saja ini patut diingatkan karena alguran lebih menekankan pada peran perempuan sebagai ibu dan istri yang baik dibandingka peran perempuan dalam politik,” katanya. Rel

Leave a Reply