• Nasdaq :3536.519+3.433 - +0.10%
  • UK Main Index :6623.21+39.04 - +0.59%
  • Australian All Ords :5444.800+32.200 - +0.59%
  • Australian 200 :5454.200+33.900 - +0.63%
  • AUS VS USD :0.9341
  • USD VS JPY :102.225
  • USD VS IDR :11420.00
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

PT PJBS & Sulzer Indonesia Dilapor ke KPK

Proyek Gas Turbin Rp200 M  di PLN Pembangkitan Belawan Tak Standar

Tender dilakukan menggunakan HPS OEM (Siemens) yang sengaja diubah menjadi Non OEM untuk memuluskan jalan bagi PJBS bisa menggunakan komponen matrial dengan harga murah dan kualitas rendah.

 

Medan-ORBIT: Pemasangan instalasi dan perbaikan  pekerjaan Life Time Extention (LTE) Major Overhouls Gas Turbine (GT)–12 di Sektor Pembangkitan Belawan Tahun 2009 menuai masalah.

PT Pembangkitan Jawa Bali Service (PJBS) sebagai anak perusahaan dari PT PLN  dan PT Sulzer Turbine Indonesia (STI) sebagai sub kontraktor melakukan pengerjaan proyek tidak sesuai standar.

Direktur Gerphan pusat Ir Janto Dearmando Selasa (20/12), mengatakan sudah melaporkan persoalan tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam laporan No 41/LP KPK/Gerphan/XII/2011 tanggal 15 Desember 2011.

Dikatakan, pada tahun 2009 PJBS melaksanakan pekerjaan LTE Major Overhouls Gas Turbine GT – 12 di Sektor Pembangkitan Belawan dengan membeli MajorComponents dari Siemens dengan harga Rp 200 miliar.

“Dengan penggunaan Major Components dari OEM (Siemens), maka Siemens sebagai pabrikan memberikan strandar/toleransi sehingga Daya Terpasang  GT-12 sebesar128 MW dapat terpenuhi,” ucapnya.

Dalam pelaksanaannya PT PJBS tidak dapat melaksanakan proyek sesuai dengan standar dan toleransi yang direkomendasikan oleh Siemens, justru unit GT-12    mengalami vibrasi  tinggi  sehingga  daya mampu maksimum GT-12 hanya berkisar 110-115 MW  atau terdapat selisih sebesar 13-18 MW.

”Potensi kerugian negara akibat tidak optimalnya GT-12 adalah kehilangan daya akibat vibrasi tinggi. Dengan asumsi kehilangan 30 MW = 30.000 KW x 270 hari/pertahun x 24 jam/hari x Rp400/jam,” jelasnya.

Lanjutnya lagi, akibat terdapat kerugian negara sebesar Rp 80 miliar/tahun. Perhitungan biaya listrik yang seharusnya dipasok PT PLN ke konsumen dengan harga jualRp1.200/KWH.

“Kemudian ditambah dengan biaya produksi Rp 800/KWH maka kerugian PT.PLN Rp 400/KWH ditambah lagi dengan biaya perbaikan dan penggantian Komponen GT yang rusak akibat vibrasi tinggi tersebut,” jelasnya.

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia (AKKLINDO) Sumatera Utara, Drs Didhin Mahidin  meminta agar PLN KITSBU segera membatalkan tender Nomor : 017/RKS-eA/610/PPBJ-A/2011 pekerjaan dan pengadaan Major Overhoul PLTGU GT 11 PLN Pembangkitan Belawan karena terindikasi diarahkan kepada PT PJBS dan berpotensi merugikan negara puluhan miliar.

Menunur Didhin, Tender kali ini dilakukan dengan menggunakan HPS OEM (Siemens) akan tetapi dalam pelaksanaan tendernya sengaja diubah menjadi Non OEM hal ini sengaja dilakukan panitia untuk memuluskan jalan bagi PJBS sebagai peserta dan bisa menggunakan komponen matrial lain dengan harga murah walaupun dengan kualitas rendah.

Komponen matrial Non OEM lebih murah 40 % dari yang OEM (Siemens). Informasi yang kami dapatkan, PJBS akan bekerjasama dengan PT Sulzer Turbine Indonesiadengan menggunakan komponen matrial merk Magna, buatan Iran.

Ditambahkan oleh Didhin yang juga pengurus KADINDA Sumut tersebut, para kontraktor lokal Sumut akan melakukan protes keras kepada Meneg BUMN, Direksi PLN dan PLN KITSBU  jika tender tetap dipaksakan dengan Non OEM dan diarahkan kepada PJBS dan PT Sulzer Turbine Indonesia.

“Hal itu akan meniadakan peran serta kontraktor lokal dan merusak tatanan dunia usaha bidang kelistrikan di Sumut,” jelasnya

GERPHAN meminta agar KPK memeriksa pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas terjadinya kerugian negara tersebut, di antaranya, GM PLN KITSBU, Direksi PT Pembangkitan Jawa Bali Service (PJBS) dan Direksi PT Sulzer Turbine Indonesia. Om-15

facebook twitter

Comments are closed