«

»

Putra Ketiga Jendral TNI (Purn) Wiranto, Zainal Nurrizki Belajar Al-Quran Meninggal di Afsel

Wiranto dan keluarga

Wiranto dan keluarga

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran:185)

 

KABAR duka meninggal dunianya Zainal Nurrizki (23), putra ketiga Jenderal TNI (Purn) Wiranto juga menyisakan duka yang mendalam bagi pengurus, fungsionaris, kader dan simpatisan Partai Hanura di Sumut, umumnya warga Sumatera Utara.

Musibah menimpa keluarga besar Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto itu sontak menggores duka menyusul tayangnya siaran televisi dan sejumlah media online mengabarkan kepergian Zainal sang putera jenderal yang diketahui tengah mendalami al-Quran di Lenasia, Johannesburg, Afrika Selatan karena sakit.

“Kami turut berduka dan sangat salut dengan ketabahan Pak Wiranto melepas sang putra ketiganya. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan semua kita tak satu pun dapat mengelak,” ungkap H Zulkifli Effendi Siregar MSc, Ketua DPD Partai Hanura Sumut kepada Harian Orbit kemarin.

Wiranto juga sangat memahami, kepergian anaknya sebagai suatu Fi Sabilillah. “Ia pun meninggal dalam keadaan mulia, anak kami lagi belajar al-Quran. Katakanlah ia meninggal dalam fi sabilillah dan husnul khatimah,” ujar Wiranto saat menggelar doa di kediamannya Komplek Pati Angkatan Darat, Jl Palem Kartika No 21, Bambu Apus, Jaktim sebagaimana dilansir media terbitan tanah air.

Cerita keluarga itu, Zainal sebelumnya sempat kuliah di UGM jurusan Hukum Internasional. Namun baru satu semester dia kembali ke Jakarta karena ingin memperdalam ilmu agama. “Akhirnya dia ambil keputusan lebih baik dalami agama dulu, merasa ada yang salah selama ini dalam hidupnya. Ia minta izin untuk pindah ke sekolah agama. Lalu mencari tempat belajar agama terbaik untuk pendalamam al-Quran,” jelasnya.

Zainal pun menemukan lembaga pendidikan tinggi di Afsel. Di sekolah itu anak-anak dari seluruh dunia berkumpul untuk memperdalam ilmu al-Quran dan Islam. “Dalam satu setengah tahun lalu sudah mulai belajar bahasa Urdu dan Arab. Inggrisnya pun sudah mahir,” tutur Wiranto.

Zainal tercatat sebagai mantan mahasiswa di Universitas Gajah Mada Jurusan Hukum Internasional. Pada tahun 2011 dia berencana memperdalam ilmu Al-Quran selama tujuh tahun di Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom Zakariyya, Johanesburg, Afrika Selatan (Afsel).

Karpet Merah

Istri Wiranto, Rugaiyah Usman atau Uga Wiranto mengaku tak mempunyai firasat apapun sebelum Zainal Nurrizki menghembuskan napas terakhir. Namun Uga mengatakan, ketika berada di Jakarta dua minggu lalu untuk mengurus visa, Zaenal sempat meminta dirinya membasuh kaki ibu dan ayahnya untuk ia minum.

“Ia minta untuk basuh kaki saya dan bapak, dan air basuhan itu diminum. Saya tanya untuk apa? Ia bilang agar diterangkan hatinya, dimudahkan dalam menuntut ilmu dan dilancarkan urusannya,” ujar Uga usai mengadakan pengajian di rumahnya.

Uga pun mengaku baru mengetahui anak lelaki satu-satunya itu meninggal dunia setelah Uga melihat karpet merah tergelar di pendopo rumahnya. “Pada saat itu saya baru pulang dari Malang. Saya baru pulang tadi siangnya. Saya tanya, kok digelar karpet-karpet ini ada apa? Saya belum tahu Zainal meninggal,” ucap Uga.

Uga pun baru mengetahui alasan mengapa karpet merah tersebut digelar Wiranto yang pada saat itu menggandengnya masuk ke dalam rumah dan menyampaikan kabar duka tersebut kepada Uga.

“Bapak bilang, ada berita duka. Anak kita dipanggil Allah,” kata Uga menirukan Wiranto. Uga pun mengaku sedih, menangis, dan kaget mendengar kabar itu. Apalagi Uga baru bertemu dengan Zaenal 2 minggu lalu ketika mengurus visa. “Tentunya kaget dan perasaan sebagai orangtua jelas tidak bisa digambarkan,” terangnya.

Uga melihat, anaknya tersebut semenjak lulus SMA memang sudah tertarik untuk mendalami ilmu agama Islam. Uga pun mengingatkan sosok Zaenal seperti kakeknya, yang juga merupakan tokoh agama di Gorontalo.

“Di UGM, dia itu Sambil kuliah, suka menyiarkan agama. Dia itu ikut (mirip) kakeknya, suka menyiarkan agama. Kakek Zaenal juga seorang imam di kecamatan saya. Jadi satu-satunya laki-laki diharapkan bisa menyiarkan agama,” pungkas Uga.

Wiranto dan keluarga ikhlas dan merelakan Zaenal dimakamkan di negeri orang. “Pertimbangan nggak dibawa, tempatnya jauh dari Johanesburg. Masih dua jam ke Lenasia. Itu daerah pemukiman umat Islam. Kalau kita paksakan ke Tanah Air, perlu usaha ekstra keras. Kami nggak tahu bagaimana izin pengembalian jenazah di sana. Bisa keluar apa nggak,” katanya.

Dua hari sebelum meninggal, kata Wiranto, almarhum menderita sakit demam dan mendapat perawatan di rumah sakit setempat. “Namun tidak dapat tertolong dan meninggal dengan tenang,” ujar Wiranto.

Atas musibah tersebut, Wiranto memohon handai taulan turut mendoakan, agar arwah almarhum mendapatkan pengampunan atas segala dosa-dosanya, serta mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Aamiinn..

“Atas nama almarhum, keluarga memohonkan maaf apabila selama hidupnya mempunyai kesalahan kepada teman, sahabat, dan siapapun yang pernah mengenalnya,” kata Wiranto

Berdakwah

Pada bagian lain, Muhammad Syukur selaku Tim Ikhtilad Markaz jamaah tablig Masjid Jami Kebon Jeruk di Masjid Jami Kebon Jeruk, Jakarta Pusat, sebagaimana dilansir media menjelaskan, Zainal merupakan anak yang pandai dan cerdas dalam hafalan Alquran.

Bahkan, katanya, Zainal pernah mendalami agama dari masjid ke masjid selama tiga hari berturut-turut, sehingga banyak sahabat yang dimilikinya ketika sedang melakukan dakwahnya. “Dan dia aktif di markas ini dalam urusan dakwah. Kebaikannya dia menjadi panutan kita,” tutur Syukur.

Meski Zainal merupakan anak pejabat, tetapi mimiliki kesederhanaaan dalam kehidupan sosialnya. Karena itu, Jamaah Tabliq merasa kehilangan ketika mendengar Zainal meninggal dunia saat mendalami agama Islam di Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom Zakariyya, Johannesburg dengan mengambil jurusan Tafsir dan Hafiz Alquran.

Tiga bulan sebelumnya, Zainal, rupanya telah menikah dengan Salsabila, wanita berusia 15 tahun. Salsabila adalah salah satu murid dari Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom Zakariyya, di mana Zainal juga bersekolah di tempat yang sama.

“Pada saat dia memilih menikah, istrinya berusia 15 tahun. Belum pernah bertemu, belum pernah melihat mukanya, rela untuk dimintakan orang tua melamar istrinya, menikah kemarin,” kata Ibunda Zainal, Uga Wiranto di kediamannya, Rabu malam 29 Mei 2013.

Hal itulah, kata Uga, yang membuatnya terhibur saat ini. Di mana, Zainal sudah menjadi manusia yang sempurna karena telah menikah. “Dia sudah sempurna, dari kecil, dewasa dan sempat melaksanakan menikah,” kata dia.

Salsabila berasal dari Jakarta. Dia adalah anak dari seorang pilot salah satu maskapai penerbangan internasional. Ayahnya, berasal dari Solo sementara ibunya berasal dari Ujung Pandang.

Zainal meninggal karena terserang demam. Tapi rupanya, Zainal tak sendiri terjangkit sakit demam itu. Menurut Wiranto, satu pertiga teman-teman Rizky yang bersekolah di sana juga terkena demam yang sama.

Awalnya, keluarga mengira sakit yang diderita Zainal adalah demam biasa. Tapi, ternyata demam itu semakin parah, hingga harus dirawat di rumah sakit. “Setelah dua hari di rumah sakit, kami pun harus merelakan dia menghadap ke Yang Maha Kuasa,” kata Wiranto. *

Leave a Reply