bennerorbit

«

»

Soal Dana BOS, Periksa Kepala SMPN 5 Garoga

Taput-ORBIT: Guna mencerdaskan kehidupan bangsa, berbagai upaya dilakukan pemerintah. Untuk menunjang serta mendukung program tersebut biaya pendidikan pun ditingkatkan hingga mencapai 20% dari total APBN, sebagian dari anggaran itu untuk biaya operasional sekolah di kenal dengan dana BOS.

Selain itu ada bantuan siswa miskin (BSM) serta beberapa dana bantuan lainnya, hal ini demi tercapainya cita-cita bangsa dengan sebutan Wajar Diknas 9 tahun.

Tetapi pada juknis-nya dana BOS harus transparan terbuka untuk diketahui masyarakat atau harus disosialisasikan bersama komite sekolah, para orangtua siswa dan dewan guru pada saat penyusunan RAPBS.

Namun sayangnya segelintir oknum sering melanggar tanpa menghiraukan efeknya untuk menimbun kocek mengisi pundi-pundi pribadi, seperti halnya di SMPN 5 Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara, diduga Laporan Pertanggungjawaban dana BOS periode Juli-September-Desember 2012 ada yang di mark-up.

Diduga Mark Up

Informasi diperoleh dari narasumber yang namanya tidak mau disebut di koran ini Selasa (23/4), selain 20% untuk gaji honor peruntukannya lebih banyak pada pembelian ATK, barang habis pakai, perawatan sekolah, pembelian sapu, untuk pembayaran jasa oara guru seperti penyususnan KTSP, MGMP dan lain-lain yang kurang menyentuh kepada siswa.

Sangat jarang dialokasikan kepada barang yang tidak habis pakai seperti buku, hingga saat ini masih memakai buku BSE yang sudah seharusnya ditambah karena pembelian buku itu sudah berakhir pada 2011, sahingga menimbulkan berbagai pertanyaan.

“Kenapa pengalokasian dana lebih banyak kepada yang habis pakai dan pembayaran jasa,” tanya seorang guru yang tahu betul kemana arah dana tersebut digunakan.

Tidak tertutup kemungkinan LPJ dana BOS di Sekolah itu dengan nominal Rp130.000.000 per tahun banyak dimark up.

Sekedar diketahui, B. Togatorop Spd sebagai Kepala SMPN 5 Garoga berdomisili di Siborng-borong dengan jarak tempuh 5 jam perjalanan, naik mobil dengan radius kurang lebih 110 km ke tempat tugasnya, karena keluarganya masih bertempat tinggal di Siborong-borong, sebut sumber.

Ketika hal itu ditanyakan kepada B. Togatorop (20/04) lewat telepon genggamnya dengan singkat menjawab, Saya masih di perjalanan nanti saya hubungi kembali. Namun hingga berita ini dikirim B. Togatorop tak juga menghubungi.

Terkait dengan itu, diminta kepada inspektorat unit Tipikor Polres Taput untuk memeriksa laporan pertanggungjawaban dana BOS di sekolah itu terutama pada periode Juli-Desember. Od-Ols

1 ping

  1. chad

    .

    ñïñ çà èíôó!

Leave a Reply