• Nasdaq :3566.429-22.375 - -0.62%
  • UK Main Index :6674.74-7.02 - -0.11%
  • Australian All Ords :5502.200+35.100 - +0.64%
  • Australian 200 :5517.800+38.500 - +0.70%
  • AUS VS USD :0.9286
  • USD VS JPY :102.275
  • USD VS IDR :11630.00
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

Soal Skandal Seks Purek III USU, Mahasiswa Harus Bergerak

Medan-ORBIT: Sanksi sosial terus menguak seiring lambannya Rektorat USU mengusut skandal seks Pembantu Rektor (Purek) III, Eddy Marlianto.

Bahkan ada pula yang akan menuntut pertanggungjawaban Eddy Marlianto yang menjadikan Biro Rektor sebagai lokasi mesumnya dengan wanita bernama Dian Sukma Rani.

Di sisi lain elemen mahasiswa menilai, Rektor USU Syahril Pasaribu khawatir menindak tegas dan terkesan melindungi Eddy Marlianto. Meskipun hal itu dianggap wajar karena stabilitas rektorat, namun Rektor dan Dewan Guru Besar harus bisa memberi sanksi kepada Eddy Marlianto.

Kordinator Aliansi Masyarakat Mahasiswa Peduli Birokrasi Bersih (AMMPBB), Halomoan Harahap kepada Harian Orbit, Senin (5/2), mengimbau perlunya gerakan masyarakat menuntut pertanggungjawaban Purek III Eddy Marlianto.

Pasalnya, menurut keterangan teman wanitanya, Eddy Marlianto menjadikan ruangan Biro Rektor USU yang merupakan fasilitas negara sebagai lokasi mesum.

“Ada beberapa hak masyarakat mengecam dan menuntut pertanggungjawaban Eddy Marlianto. Digunakannya fasilitas negara untuk dijadikan lokasi mesum telah membuat marah elemen masyarakat,” ujar Halomoan.

Dia mengkhawatirkan, penggunaan salahsatu ruangan di Biro Rektor USU itu mengubah pandangan masyarakat terhadap Kampus USU. Bisa jadi, setelah dugaan pemuda-pemudi yang menjadikan kampus USU sebagai lokasi pacaran, kini akan muncul pula anggapan bahwa kampus USU dijadikan lokasi mesum.

“Indikasinya jelas, yakni Purek Tiga USU menjadikan ruangan Purek III sebagai lokasi maksiatnya. Maka jangan salahkan jika masyarakat menganggap kampus USU sebagai lokasi maksiat,” tandas Halomoan lagi.

Terpisah, Aktivis Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi (Gemaprodem) Sumut, Ucil Tarihoran, adalah salah seorang dari sekian banyak yang berkomentar skandal seks yang mencoreng wajah USU. Ucil menjelaskan skandal seks Purek III USU merupakan tindakan yang tidak patut diteladani mahasiswa.

Untuk itu katanya, Rektor USU Syahril Pasaribu harus segera mengambil sikap terhadap skandal seks mencoreng wajah USU sebagai wdah kaum intelektual. ”Rektor harus segera mengambil tindakan dan berani mempublikasikan ke masyarakat. Apalagi kasus ini memang sudah menjadi konsumsi masyarakat Sumut,” tandas Ucil.

 

Sulit Diterima

Menurutnya, sanksi Rektor dan Dewan Guru Besar USU menjadi cermin penegakan kode etik di kampus Padangbulan itu. Meskipun tidak mempermasalahkan sanksinya, namun Ucil berharap Rektor dan Dewan Guru Besar bisa memberikan sanksi sesuai aturan soal pelanggaran kode etik Guru Besar.

Ucil berujar, mau tak mau Purek III Eddy Marlianto harus menerima sanksi sosial. Menurutnya, mahasiswa di kampus manapun yang mengetahui track record Eddy Marlianto akan merasa malu jika dididik dosen yang memiliki latar belakang skandal seks. Menurutnya, Rektor USU juga harus tegas menerapkan sanksi yang jelas bagi Eddy Marlianto.

“Apakah sanksi itu berupa pemecatan jabatan Purek III dan Eddy Marlianto dilarang untuk mengajar di USU, keputusan itu ada di tangan Rektorat dan Dewan Guru Besar USU. Namun jika tidak malu dan skandal seks itu tidak menjadi beban, silakan saja dia (Eddy-red) kembali mengajar seperti dosen biasa,” tukas Ucil.

Namun Ucil menilai Eddy Marlianto akan sulit diterima sebagai pengajar di kampus manapun. Om-28

facebook twitter

You must be logged in to post a comment Login