• Nasdaq :3536.519+3.433 - +0.10%
  • UK Main Index :6623.21+39.04 - +0.59%
  • Australian All Ords :5444.800+32.200 - +0.59%
  • Australian 200 :5454.200+33.900 - +0.63%
  • AUS VS USD :0.9341
  • USD VS JPY :102.225
  • USD VS IDR :11420.00
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

T Erry Dituding Predator Uang Rakyat

Massa demo Tengku Erry Nuradi.ORBIT/Suhardiman

Massa demo Tengku Erry Nuradi.ORBIT/Suhardiman

Demo Korupsi Serdangbedagai

Terjadinya kekosongan kas daerah Pemkab Sergai 2009-2010 sebesar Rp113 miliar, diduga mengalir untuk kepentingan pribadi Erry Nuradi memenangkan Pemilukada 2010. Bupati Sergai pun didesak mundur.

 

Sergai-ORBIT: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serdangbedagai (Sergai) di bawah kepemimpinan T Erry Nuradi  dituding predator (pemangsa) uang rakyat.

Dalam aksi unjukrasa Organisasi Mahasiswa dan Masyarakat Anti Korupsi (OMMBAK ) Sumut di depan Kantor Bupati Sergai Kamis (9/2), T Erry dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas banyaknya kasus korupsi di Sergai.

Massa OMMBAK mengungkap dugaan korupsi Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sergai yang diduga melibatkan T Erry Nuradi.

Selain itu, dugaan korupsi pembangunan dermaga mini Tanjung Beringin yang hingga hari ini belum ada kejelasan. Mereka juga menduga ada kepentingan anggota DPRD dalam proyek tersebut.

Yang menjadi perhatian khusus, adalah terjadinya kekosongan kas daerah Pemkab Sergai 2009-2010 sebesar Rp113 miliar. Massa OMMBAK menduga dana tersebut mengalir untuk kepentingan pribadi Erry Nuradi guna memenangkan Pemilukada Sergai 2010.

“Atas kasus dugaan korupsi itu, kami menganggap T Erry sebagai predator uang rakyat. Ini harus kita tuntut,” tegas Waspada Daely, selaku Kordinator Aksi OMMBAK.

Ia mengatakan, kasus dugaan korupsi yang terjadi di Sergai menunjukkan kegagalan pemerintahan T Erry dalam menjalankan roda pemerintahan yang baik (good governance).

Untuk itu, massa mendesak T Erry Nuradi untuk segera mundur dari jabatannya karena dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahan di Sergai. Massa juga mendesak DPRD Sergai untuk sungguh-sungguh menjadi perpanjangan tangan rakyat memperjuangkan aspirasi rakyat.

Pantauan di lapangan, aksi unjukrasa di depan kantor Bupati Sergai sempat ricuh. Situasi bermula saat masa berniat masuk menemui Bupati T Erry untuk memberikan hadiah BH dan celana dalam.

Namun, upaya tersebut gagal karena dihalau Satpol PP yang saat itu menghadang para pengunjukrasa. Tak terima dengan penolakan itu, massa terpancing hingga akhirnya terlibat saling dorong dengan Satpol-PP. Kericuhan baru mereda setelah massa ditenangkan rekan aktivis OMMBAK lainnya.

Sebelummnya, massa juga menggelar aksi di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu). Massa juga  menghadiahi Kejatisu celana dalam dan BH yang dibungkus dalam kertas kado. Hadiah yang diberikan massa ini diterima Kasi I Intel Kejatisu, Ali Saragih.

Korupsi RS Sultan Sulaiman

Selain itu dugaan penyimpangan keuangan negara pada proyek pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Sulaiman, Serdangbedagai (Sergai) senilai miliaran rupiah kembali mencuat ke permukaan.

Dugaan korupsi tersebut yang sedang ditangani penyidik intelejen Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) itu, diduga kuat melibatkan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Medan Edwin Effendi.

Dari penuturan sumber kepada Harian Orbit, Kamis (9/2), dugaan penyimpangan itu tak hanya menyeret nama mantan Dirut T Amry Fadly, tetapi menyeret nama Edwin Effendi yang pernah menjabat sebagai Kadinkes Sergai tahun 2009.

“Memang benar dugaan penyimpangan keuangan negara itu di RS Sultan Sulaiman, tapi waktu itu jadi gaweannya Kadinkes Sergai Edwin Effendi,“ kata sumber.

Masih menurut sumber, usai melaksanakan proyek di RS tersebut, Edwin Effendi ditarik menduduki jabatan baru dengan menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan.

“Karena itu pula, saat kasus tersebut diselidiki kejaksaan sebagai Dirut RSUD Sultan Sulaiman ketika itu T Amry Fadly di periksa. Apakah Edwin juga sudah diperiksa penyidik kejaksaan saya belum tahu,” beber sumber lagi.

Di tempat terpisah, Asisten Intelejen (Asintel) Kejatisu yang baru Raja Nafrizal, SH ketika dikonfirmasi apakah pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap Edwi Effendi, dia mengaku belum bisa memastikan.

“Saya kan baru, besoklah saya tanyakan lagi kepada anggota saya apakah sudah pernah penyidik memeriksa yang bersangkutan,” katanya singkat.

Sementara itu, Kadinkes Kota Medan Edwin Effendi ketika dikonfirmasi Harian Orbit melalui nomor 0811620xxx tidak bersedia menjawab. Begitu pula ketika di sms tidak mendapatkan jawaban.

Seperti diketahui sebelumnya, mantan Kasi Penkum Humas Kejatisu Edi Irsan Tarigan membenarkan pemeriksaan dari pihak RS Sultan Sulaiman. “Memang benar ada kita undang pejabat dari RS tersebut,” jelas Edi.

Edi menjelaskan, pemanggilan dan pemeriksaan kepada pejabat itu sudah dilakukan tiga pekan silam. Hanya saja, pada pemeriksaan itu yang bersangkutan diminta melengkapi beberapa dokumen yang berkaitan dengan perkara yang ditangani.

“Pemeriksaan untuk dimintai keterangan terhadap pejabat itu sudah dilakukan, hanya saja masih ada beberapa dokumen yang harus dilengkapinya sebagai alat bukti,” jelasnya  sembari mengatakan jika kasus tersebut terungkap berawal dari laporan masyarakat itu. Om-33/ Om-15

facebook twitter

You must be logged in to post a comment Login