• Nasdaq :3534.532+1.446 - +0.04%
  • UK Main Index :6625.25+41.08 - +0.62%
  • Australian All Ords :5444.800+32.200 - +0.59%
  • Australian 200 :5454.200+33.900 - +0.63%
  • AUS VS USD :0.9327
  • USD VS JPY :102.425
  • USD VS IDR :11420.00
  • WP Stock Ticker
Temui kami di: feed rss facebook twitter google+
|

UU KIP

MAU Tahu, filosofi dan substansi UU KIP. Bertujuan menciptakan keterbukaan informasi dan komunikasi bagi publik. Menyadari masyarakat sebagai kontrol publik serta menempatkan orang-orang profesional di bidang data dan dokumentasi untuk diinformasikan.

Artinya UU KIP hadir menempatkan publik sebagai pengawas dan kontrol sosial yang kuat sebagai konsekuensi dari era keterbukaan dan demokrasi. Erat kaitannya dengan negara maju adalah sangat mementingkan dokumentasi, informasi dan kearsipan yang baik. Menyediakan sistem informasi yang memungkinkan publik untuk mengakses dengan cepat, tepat dan sederhana.

Jadi petugas profesional di bidang informasi menjadi sangat penting. Bukan sebaliknya petugas informasi publik malah menutup informasi, hanya karena tidak profesional dan tidak memahami UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Aneh juga kalau badan publik tidak memahami dan menjalankan UU KIP 14 Tahun 2008. Padahal badan publik yang tidak memenuhi permintaan informasi publik dari pemohon bisa terancam sanksi pidana (Pasal 52 UU KIP) dikenakan kurungan satu tahun.

Sesungguhnya UU KIP dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan lembaga negara dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, pemberantasan korupsi, dan sarana meningkatkan pengawasan publik.

Namun berdasarkan fakta integritas, sebagaimana yang dialami Harian Orbit staf pengelola informasi Bagian Humas Kanwil DJP Sumut I, Sigit malah dengan sengaja menutup informasi. Menghambat dan menghalang-halangi hak pers untuk mendapatkan akses informasi publik yang benar.

Staf Humas DJP bukan satu-satunya, banyaknya para pejabat di daerah ini yang secara sengaja dan terang-terangan melanggar UU KIP. Implementasi Pakta Integritas UU KIP itu juga menunjukkan masih sangat kentalnya budaya korup di tubuh birokrasi. Alamak!

facebook twitter

You must be logged in to post a comment Login