«

»

Warga Minta PT M3 Angkat Kaki dari Madina

Tuntutan angkat kaki dari bumi Madina sampai kini masih menggelora oleh masyarakat, khususnya warga Kelurahan Tapus Kabupaten Mandailing Natal. Mereka menuding PT. M3 telah menipu dengan menguras hasil bumi, sementara manfaatnya tidak diperoleh pemkab dan warga sekitar.

Panyabungan-ORBIT: Sudah enam tahun PT.M3 (Madinah Madani Mining) hadir di Kelurahan Tapus Kabupaten mandailing natal, namun hingga kini belum mempelihatkan niat baiknya turut membangun di wilayah tersebut, bahkan keberadaannya hanya sengsarakan masyarakat hingga terjadi perpecahan antar warga.

Pendapat ini disampaikan S. Nasution, tokoh pemuda Tapus pada Harian Orbit di Panyabungan Selasa (4/6). Dikatakanya, sejak 2007 perusahaan yang bergerak di bidang tambang emas tersebut hingga kini terus menjadi perbincangan masyarakat, ada yang mendukung tetapi banyak yang menolak keberadaan PT.M3.

Diketahui sebelumnya, bahwa izin yang dimiliki PT. M3 merupakan izin tambang baoksid, namun fakta di lapangan lebih banyak menghasilkan emas, hal ini telah menyebabkan kerugian negara, karena seharusnya PT. M3 membayar pajak sesuai dengan yang ditambang, tetapi yang dibayar hanya baoksid, kata Nasution.

Kita masyarakat tapus mendesak agar Kadis Pertambangan dan Energi Madina, jangan menerima setoran saja dari perusahaan, tetapi harus bertindak karena perusahaan telah menyalahi aturan. “Tolong beri tindakan, jangan dibiarkan sehingga masyarakat dirugikan atas keberadaan PT.M3 tersebut,” tegasnya.

 

Angkat Kaki

Berkaitan dengan keberadaan perusahaan itu, belakangan Dinas Kehutanan Kabupaten Madina juga menemukan dugaan terjadinya ilegal loging dilakukan PT. M3 dan dimanfaatkan untuk pembangunan barak karyawan, namun hingga kini persoalan tersebut diam begitu saja.

Diduga kuat Dinas Kehutanan telah sekongkol dengan pihak perusahaan agar persoalan tidak dimunculkan ke permukaan, karena sebelumnya dishut menyatakan bahwa PT. M3 melakukan ilegal loging dan memanfaatkan hasil hutan tersebut untuk pembangunan barak karyawan.

Lanjut S. Nasution, lebih ironis hingga kini PT. M3 hanya sebagian kecil menggunakan putra daerah yang dipekerjakan, sementara orang yang bukan putra daerah banyak bekerja di perusahaan tersebut bahkan mendapatkan posisi jabatan, sedangkan putra daerah hanya dijadikan buruh harian lepas saja.

“Ini sangat tidak adil bagi masyarakat, mengapa orang luar bisa mendapatkan jabatan di perusahaan tersebut sementara putra daerah yang tinggal di Tapus tidak diberikan,” katanya.

Berdasarkan data diperoleh, diketahui hanya enam orang warga Tapus yang kerja di perusahaan dan itupun menjadi buruh harian lepas, padahal sebelumnya PT. M3 pernah menjanjikan bahwa tenaga kerja harus 60 persen dari masyarakat Tapus, buktinya bohong belaka. Lebih baik PT. M3 angkat kaki dari Kelurahan Tapus, katanya.

Direksi PT. M3 Lukito Widodo dikonfirmasi via telepon tidak aktip bahkan di SMS juga tidak ada balasan, sedangkan Humas PT. M3 Darno yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sido Makmur dikonfirmasi via telepon juga tidak aktip, di SMS pun tidak ada balasan hingga berita ini dikirimkan ke redaksi. Od-20

Leave a Reply