bennerorbit

«

»

Wartawan Tiga Zaman, Ali Soekardi, Harian Orbit Berjuang Memenuhi Aspirasi Rakyat

Ali Soekardi

Ali Soekardi

 

KATA ORBIT dalam kamus kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia karya JS Badudu berarti, lingkaran, pusat
lingkaran. Tetapi ORBIT yang dimaksud di sini adalah nama sebuah harian, yaitu Harian ORBIT dengan mottonya, “media aspirasi rakyat”.

Sebuah media massa yang muda usia, karena bulan Desember 2012 masih berusia tiga tahun. Namun meskipun relatif muda usia, ternyata Harian ORBIT telah mampu memosisikan kedudukannya sebagai sebuah harian yang
khas. Apa itu?

Harian ORBIT berani dan mampu memperjuangkan aspirasi rakyat (sesuai motto yang tercantum di halaman depan di
bawah nama).

Mungkin yang dimaksud dengan aspirasi rakyat sekarang ini, secara umum dapat diartikan dengan selain turut berapresiasi dalam pembangunan, juga yang terpenting adalah berani berjuang melawan dan berupaya menghapuskan kebatilan dan kejahatan seperti korupsi, manipulasi nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, penipuan, perselingkuhan, perkosaan, kejahatan, narkoba dan banyak lagi lainnya.

Segala macam kebatilan dan kejahatan ini masih banyak terjadi dalam era reformasi yang serba terbuka sekarang ini dan jelas-jelas sangat merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Dan semua kebatilan dan kejahatan memang harus dilawan oleh pers yang benar. Jika tidak mungkin dihapus secara total, setidaknya dapat dikurangi sebanyak mungkin.

Dulu ada sebutan yang unik untuk pers yang berani melawan kebatilan dan kejahatan, yaitu “wacthdog”. Dia akan menggonggong, mengejar dan menggigit jika mengendus adanya kebatilan, kejahatan serta penyimpangan yang terjadi.

Lalu apakah Harian ORBIT termasuk jenis ini?
Saya yakin pembaca yang arif tahu sendiri jawabannya. Dia pasti akan mengerti apa yang dibaca, bahkan dapat merasakannya.

Saya jadi teringat pada era-era kehidupan pers di tanah air tercinta ini. Dulu di masa awal kemerdekaan, bahkan pada masa Revolusi Kemerdekaan, pers masih mengalami kemerdekaan pers. Para pendiri republik ini masih menerapkan demokrasi.

Baru ketika terjadi berbagai gejolak di tahun 1950-an oleh penguasa dinilai dapat membahayakan keselamatan bangsa
dan negara, pers pun dianggap suka “mengompori” dalam berita-berita dan ulasannya, maka berlakulah segala macam pembatasan dan larangan. Pemerintah Orde Lama menerapkan sistem pembredelan pers.

Sekejap di masa pemerintahan Orde Baru, sejak tahun 1966 pers bebas kembali. Tapi tak lama setelah Peristiwa Malari
(Lima Belas Januari) 1974, oleh pemerintah Orba pemberedelan diberlakukan. Sampai akhir hayatnya Orde Baru banyak media massa yang terkena pembredelan.

Ada yang untuk sementara, tapi tak sedikit yang “dipateni” (dibunuh mati). Padahal ketika itu pers berjuang melawan kebatilan dan korupsi (ingat korupsi di Pertamina dan Harian Indonesia Raya jadi korban).

Zaman “gemilang” bagi pers tiba seiring datangnya reformasi. Pers bebas kembali. Begitu bebasnya sampai-sampai terasa “kebablasan”. Seolah-olah dalam alam demokrasi itu, pers boleh berbuat apa saja, dan boleh ngomong sesuka hati sendiri. Padahal demokrasi itu
akan menjadi “bencana” jika tanpa dibarengi hukum, moral dan etika.

Dulu wartawan bekerja dan menerbitkan media
massa semata-mata dilandasi oleh idealisme. Semua dikerjakan untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Dia tidak perduli menjadi lilin yang menerangi orang lain tapi diri sendiri terbakar.

Kemudian idealismenya terbungkam dengan datangnya “zaman gelap”, karena semua ide dan prakarsanya harus sesuai keinginan dan dikontrol oleh penguasa.

Sekarang dalam era reformasi dan demokrasi wartawan bebas kembali. Benarkah itu? Boleh dikatakan benar tapi juga tidak.

Wartawan sekarang boleh menulis apa saja sesuai dengan kemampuannya. Namun ide maupun sarannya belum tentu dapat disalurkan kepada pembaca sesuai dengan
keinginannya.

Ada semacam tirai terselubung, yaitu media massa sekarang banyak dikuasai atau tunduk pada pemilik modal atau penerbit. Bisa saja berita atau tulisan karya wartawan tidak dimuat, karena bertentangan atau dapat “membahayakan” sang pemilik modal. Industri pers sekarang “dikuasai” kaum pemodal.

Harian ORBIT yang masih muda usia tapi
dewasa, kita yakin seperti itu. Melihat kiprah penerbitannya sehari-hari, boleh diyakini bahwa sejak pemilik modal (penerbit), pemimpin redaksi, redaktur dan
para wartawan dan segenap keluarga besar Harian ORBIT, pasti memang bertekad dan berkarya guna memenuhi aspirasi rakyat.

Akhirnya saya menyampaikan salam selamat ulangtahun ketiga Harian ORBIT. Selamat maju jaya dan tetaplah maju tak gentar.

Leave a Reply